sorry writing in this blog is not so good, because I can not speak english. But I'm eager to England
Kamis, 12 November 2009
INFOTAINMENT DAN SISI LAIN DI SEKITARNYA
Berkembangnya infotainment dikarenakan oleh perpanjangan ruang publik yang ada di media televisi. (memindahkan gosip,rasanan,ngrumpi ke media televisi), berkembangnya jurnalisme tabloid (tabloidisasi), simulasi media akibat determinasi teknologi komunikasi, kekacauan pengertian dan pemanfaatan ruang publik untuk ngrumpi , dan siasat rating/strategi media agar mampu bertahan dalam kompetisi acara televisi melalui komodifikasi aib, tragedi yang dialami selebritis.
Relitas yang ada dalam suatu infotainment adalah Infotainment, khususnya dalam tayangan televisi lebih mengerucut menjadi informasi tentang dunia hiburan atau sosok pemusik, pemain sinema, sutradara, artis atau selebritis, tayangan gosip (tidak jelas faktanya, tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya), aktual, mengarang realitas, menggelapkan fakta, memaksa bertanya , istilah salah kaprah selebritis sebagai public figure yang sama sekali tidak punya kebijakan pada publik(lebih tepat disebut sebagai pesohor), wawancara eklusif , Cenderung prestatif (jika dpt membongkar privacy/yg tersembunyi), dan secara ber ulang-ulang ditayangkan.
Infotainment sampai saat ini disenangi masyarakat (seputar gosip, isu, dan rasanan) karena Perilaku voyeurism, suka mengintip membicarakan rahasia dan aib orang lain merupakan ekstase (menimbulkan perasaan puas), tradisi rasanan yang dilakukan melalui aktivitas jagong,nongkrong telah menjadi perilaku keseharian masyarakat Ngrumpi selebritis menjadi kebiasaan keseharian (everyday life) karena tidak mempunyai
potensi konflik dengan lingkungan (tetangga), sebagai sarana (bahan) untuk masuk dalam perbincangan publik dalam situasi non- formal.
Blog, Sebuah Budaya Baru Pemberitaan
Disadari atau tidak, sebenarnya salah satu penyebab ketertinggalan bangsa timur dari bangsa barat adalah salah satu budayanya yang sangat tertutup. Budaya yang mengajarkan untuk membatasi diri dalam segala hal ini nyata-nyata telah membuat batas perkembangan bagi pribadi itu sendiri. Sejarah menunjukkan, pembatasan diri yang dilakukan di masa lampau pun telah banyak menghambat perkembangan sebuah bangsa. Tembok China yang dibangun untuk mengatasi serangan musuh ternyata juga membatasi perkembangan bangsa di dalamnya pada masa lampau. Begitu pula tembok Jerman Barat-Jerman Timur, dan masih banyak lagi simbol 'batas' yang pada akhirnya benar-benar telah membatasi sebuah perkembangan.
Namun kita patut bersyukur atas berkembangnya teknologi, terutama teknologi informasi di masa kini, di mana mengijinkan kita untuk terbebas dari 'batas-batas' tersebut. Kini budaya yang berkembang adalah sebaliknya, perkembangan teknologi informasi melalui blog telah memberikan berita baik bagi bagi sebuah arti lintas batas. Generasi muda tidak dapat lagi diajarkan untuk bersembunyi di balik 'tembok'-nya, justru yang harus dilakukan saat ini untuk berkembang adalah sebaliknya, membuka diri dan berbagi informasi dengan dunia secara luas. Dan untuk saat ini blog telah memenuhi semua kebutuhan itu. Siapa pun orangnya kini dapat dengan bebas mengemukakan pendapat dan pemikirannya, berbagi ide dan pengalaman, berbagi minat dan berita, yang kesemuanya itu dilakukan melalui blog.
Bahkan kini blog telah dianggap sebagai sebuah media jurnalistik baru yang independen. Seperti yang dilansir KCM pada 15 Oktober yang lalu, di Amerika hal ini ditandai dengan pemberian kartu pers dari Presiden Amerika Serikat kepada dua orang blogger untuk meliput jalannya pengadilan atas Mantan Kepala Staff Gedung Putih, Lewis 'Scooter' Libby. Selain itu masih banyak aktifitas pemberitaan para blogger yang pada kenyataannya terkadang jauh lebih menarik daripada sebuah versi online media cetak profesional sekalipun. Mengapa bisa demikian? Karena dalam sebuah blog, blogger tidak dibatasi ataupun dikekang oleh berbagai macam peraturan dan standart operasional yang kaku. Para blogger bebas menyuarakan apa yang mereka anggap benar atau salah tanpa harus bersandar pada nilai normatif tertentu. Tidak terkecuali mereka juga bebas memberitakan hal-hal yang bersifat 'out of record', dan membahasnya dari sudut pandang mereka. Nilai kebebasan dalam saling berbagi pendapat maupun informasi telah menjadikan blog sebagai sebuah budaya baru dalam pemberitaan yang mungkin dapat dirasakan masyarakat sebagai sesuatu yang jauh lebih menarik.
Internet, Bisnis Media Masa Depan
Sesuai dengan pendapat Robert R Dominick yang menyatakan bahwa media massa adalah media yang digunakan dalam proses komunikasi massa. Maka syarat utama komunikasi data/informasi melalui media pemberitaan online seperti kompas.com dan detik.com otomatis terpenuhi. Karena dengan media pemberitaan berbasis Internet, segala macam pemberitaan dapat disampaikan dengan sangat cepat kepada masyarakat luas (massa). Inilah mengapa masyarakat kini cenderung lebih memilih Internet sebagai media pemberitaan yang efesien.
Grafik pertumbuhan media Internet pun nampaknya menunjukkan hasil yang serupa, yang berkebalikan dengan koran atau media cetak yang terus saja mengalami penurunan perlahan. Sekitar 40% masyarakat kini mulai beralih ke Internet sebagai media penyedia informasi, angka ini hampir merupakan dua kali lipat dari angka tahun sebelumnya yang hanya 24%. Sedangkan untuk media massa lain seperti radio dan televisi nampaknya masih bisa bernafas lega, karena teknologi penunjang bisnis media melalui Internet memungkinkan konvergensi kedua jenis media ini melalui Internet. Perkembangan teknologi multimedia yang pesat pun turut mempengaruhi prospek cerah Internet sebagai media komunikasi informasi yang cepat.
Mendengarkan radio atau menonton TV masih bisa dilakukan melalui Internet. Masyarakat pun telah banyak menikmati konvergensi layanan pemberitaan ini dari berbagai macam gadget yang terus berkembang saat ini, seperti handphone, PDA, notebook, dan sebagainya. Sedangkan perusahaan-perusahaan media cetak mungkin harus mulai mengembangkan lini baru bisnis beritanya melalui Internet sejak sekarang. Karena walaupun mungkin saat ini bisnis media cetak masih dapat diandalkan, namun bukan tidak mungkin jika kelak bisnis media pemberitaan melalui Internet-lah yang akan menjadi raja.(dna)
Sejarah Jurnalisme Indonesia
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.
Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.